pagi menjelang siang tadi hape saya berdering. Agak ragu juga buat nrima panggilan masuk tersebut, padahal nyata-nyata no tlp nya terdafdar di ponbuk hape. Bukan knapa-knapa, karna saya hanya pernah berbicara dengan dia melalui hape "seseorang" yang pernah dekat dengan saya. Yepz, dia (dulu) teman dekat dari seseorang itu. Kaget juga sih, karna ternyata mereka dah lama ngga berkomunikasi karna suatu "persaingan". Nah saya kaget lagi dengar soal "persaingan" tersebut, antara percaya dan tidak.
Belum usai ketidakmengertian saya, dia sampaikan lagi tentang "prilaku" dan "kenyataan" lain temannya itu. Aaaargh.. hati saya menolak, tapi logika saya menentang penolakan tersebut. Smua itu mungkin saja benar. Toh nyatanya saya tidak benar-benar dekat dengan "dia". Teman yg menelp saya ini bilang klo saya dibohongin terang-terangan.. hahahahaha... Ya, saya lebih banyak tertawa selama percakapan kami tersebut, yang tidak sedikit disusupi informasi tentang "dia".
Fyuuuh.. ntah yang mana yang harus saya percayai. Klo informasi itu benar, knapa juga "dia" berbohong tentang "kenyataan" tersebut. Juga tentang "prilaku" nya yang sulit saya percaya. Mungkinkah karna sudah terkontaminasi Jakarta, atau memang prilakunya yang sperti itu. Dan kalau pun informasi itu tak benar, apa gunanya juga temannya bicara sperti itu pada saya. Tak ada siapa pun yg diuntungkan atau dirugikan. Ntahlah, saya ngga mau ambil pusing. Ogah berprasangka juga.
Hal ini jadi mengingatkan saya dengan "seseorang" dan pasangannya nun jauh disana. Mreka yang saya percayai, mreka yang saya anggap dekat, nyatanya tega juga menikam saya dengan "cerdas". Meskipun berbagai argumen digunakan untuk membenarkan smua itu, tetap saja buat saya tidak berlaku sama sekali. Sepahit dan sesakit apapun, kebenaran tetap lebih baik dari KEBOHONGAN. Apalagi klo akhirnya kebenaran itu diungkapkan sendiri, sia-sia dong bohongnya hehehehe.. bodoh!!!
Kawan, jika cepat atau lambat akan memberikan jawaban yang sama tetapi respon yang berbeda, tidak kah cepat adalah pilihan yang lebih baik?!!
Duh.. knapa yah orang susah banget buat jujur. Konyolnya lagi, kadang-kadang untuk hal kecil dan ngga penting pun mreka bohong juga. Lebih penjahaD lagi klo tega ngelakuin itu ke orang-orang terdekat untuk hal-hal besar dan cukup penting. Saya ngga ngerti gmana nyikapin ini, karna di satu sisi saya ngga suka mutus sialturahim tapi disisi lain kcewa banget ma klakuan temen yang macem gtu.
Uhmmmm.. apa perlu yah nerapin ih kata-kata ke semua orang, "peduli setan loe bohong apa ngga, toh loe juga ngga tau kan gw percaya loe apa ngga" hahahahahaha.. oooops...
Rabb.. pelihara selalu hati dan jiwa ini
hanya dengan Rahman dan Rahiim Mu
Sungguh tak ada sebaik-baik pelindung selain Engkau
Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu...
4.8.08
31.7.08
muNdur
Tepat pertengahan tahun ini usia saya menggenap melampaui sperempat abad. Usia bertambah, itu berarti sisa hidup saya berkurang. Tidak itu saja, menjelang genap usia tersebut saya justru sedang mempertimbangkan untuk melepaskan banyak hal dengan meninggalkan pekerjaan yang telah saya jalani setahun lebih. Pkerjaan yang sejak awal diperkenalkan dengan tepat, membuat saya menemukan jawaban dari smua kriteria ideal yang saya miliki.
Berat? tentu saja. Karna itu berarti saya harus me-reset kembali peta mimpi saya. Me-reset kembali hal-hal yang ingin saya capai melalui pekerjaan tersebut. Bahkan saya menjadi tak yakin bahwa sbagian mimpi yang dapat saya capai melalui pekerjaan tersebut, akan dapat saya wujudkan dengan saya meninggalkan pkerjaan itu. Mimpi yang bukan untuk saya pribadi.
Belum lagi tanggungjawab moral saya terhadap orang-orang yang telah memilih saya sbagai orang yang mreka percayai, terhadap orang-orang yang saya perkenalkan dengan pkerjaan ini.
Hal lainnya yang saya rasakan adalah ketika saya belum juga mampu menafkahi jiwa saya sperti beberapa tahun yang lalu. Alhasil, saya menjadi bgitu mudah emosional. Juga memutuskan untuk "lari" dari orang-orang tercinta karna sesuatu yang tidak siap saya hadapi. Menekan perasaan sendiri karna "tak mampu" lagi untuk berbagi, mengabaikan setiap rasa, berhenti menyelam lebih dalam, kemudian menjadi "tak peduli" demi menghindari sakit hati. Belum lagi hal-hal lainnya yang terjadi bersamaan dalam rentang waktu itu, yang cukup terwakili hanya dengan sbuah kata "sia-sia"
Rabb... kusadari tersisip rindu dan cemburu Mu
dari smua yang sedang ku alami
dari segala yang harus ku hadapi
namun mengapa aku masih juga tak peduli?!!
Rabb... jangan murkai aku, karna aku pun juga rindu
beri sisa waktu, untuk dapat aku terus berbenah diri
agar Engkau tak hanya ada dalam hati
namun juga mampu ku maknai diri untuk menjadi lebih berarti
Berat? tentu saja. Karna itu berarti saya harus me-reset kembali peta mimpi saya. Me-reset kembali hal-hal yang ingin saya capai melalui pekerjaan tersebut. Bahkan saya menjadi tak yakin bahwa sbagian mimpi yang dapat saya capai melalui pekerjaan tersebut, akan dapat saya wujudkan dengan saya meninggalkan pkerjaan itu. Mimpi yang bukan untuk saya pribadi.
Belum lagi tanggungjawab moral saya terhadap orang-orang yang telah memilih saya sbagai orang yang mreka percayai, terhadap orang-orang yang saya perkenalkan dengan pkerjaan ini.
Hal lainnya yang saya rasakan adalah ketika saya belum juga mampu menafkahi jiwa saya sperti beberapa tahun yang lalu. Alhasil, saya menjadi bgitu mudah emosional. Juga memutuskan untuk "lari" dari orang-orang tercinta karna sesuatu yang tidak siap saya hadapi. Menekan perasaan sendiri karna "tak mampu" lagi untuk berbagi, mengabaikan setiap rasa, berhenti menyelam lebih dalam, kemudian menjadi "tak peduli" demi menghindari sakit hati. Belum lagi hal-hal lainnya yang terjadi bersamaan dalam rentang waktu itu, yang cukup terwakili hanya dengan sbuah kata "sia-sia"
Rabb... kusadari tersisip rindu dan cemburu Mu
dari smua yang sedang ku alami
dari segala yang harus ku hadapi
namun mengapa aku masih juga tak peduli?!!
Rabb... jangan murkai aku, karna aku pun juga rindu
beri sisa waktu, untuk dapat aku terus berbenah diri
agar Engkau tak hanya ada dalam hati
namun juga mampu ku maknai diri untuk menjadi lebih berarti
28.7.08
koMuniTas
Ngga sedikit orang yang bergelut dengan dunia maya pastinya (pernah) punya komunitas tertentu dimana dia merasa nyaman dan cocok terhadap komunitas tersebut. Bgitu juga dengan saya. Sejak mengenal internet diawal menjejakkan kaki di bangku kuliah, saya mengikuti beberapa komunitas didunia maya. Mulai dari komuntas kecil-kecilan di mIRC, milis, sampai forum. Dari smua komunitas yang pernah saya ikuti tersebut, yang paling berkesan adalah dikomunitas trakhir yang saat ini saya cukup aktiv didalamnya.
Ngga perlu disebut ah apa nama komunitasnya. Yang pasti sih bentuk nya forum dan lumayan besar.
Banyak hal yang saya dapatkan disana. Mulai dari mengenal teman-teman dengan berbagai latar belakang yang berbeda, mengikuti diskusi-diskusi "uniQue", mlakukan kgiatan positif untuk sesama, sampai sempat juga bertikai dengan sesama member hehehehe (ngga terlupakan deh yang ini untuk pertama dan trakhir kalinya *istighfar... really sorry to both of u)
Dan dari smua itu saya smakin blajar banyak hal lagi, terutama dalam bersosialisasi di dunia maya yang notabene juga butuh etika.
Oya ktinggalan, akhirnya saya "ksambet" juga disana stelah delapan bulan bergabung dengan komunitas tersebut hahahahaha... Duduls ah!! Sakit jiwa! fyuhhh... dunno deh... nikmati saja lah.. untuk skedar "bahagia"
Thank you so much, guys...
Ngga perlu disebut ah apa nama komunitasnya. Yang pasti sih bentuk nya forum dan lumayan besar.
Banyak hal yang saya dapatkan disana. Mulai dari mengenal teman-teman dengan berbagai latar belakang yang berbeda, mengikuti diskusi-diskusi "uniQue", mlakukan kgiatan positif untuk sesama, sampai sempat juga bertikai dengan sesama member hehehehe (ngga terlupakan deh yang ini untuk pertama dan trakhir kalinya *istighfar... really sorry to both of u)
Dan dari smua itu saya smakin blajar banyak hal lagi, terutama dalam bersosialisasi di dunia maya yang notabene juga butuh etika.
Oya ktinggalan, akhirnya saya "ksambet" juga disana stelah delapan bulan bergabung dengan komunitas tersebut hahahahaha... Duduls ah!! Sakit jiwa! fyuhhh... dunno deh... nikmati saja lah.. untuk skedar "bahagia"
Thank you so much, guys...
14.6.08
niKah
"kamu kapan?" nyesss... akhirnya sampai juga pertanyaan itu terlontar dari mulut Bapak, beberapa hari stelah seorang spupu melangsungkan pernikahannya dirumah kami. Prasaan ku membuncah, tak kuasa menjawabnya. Tergagap, demi tak ada airmata yang tumpah. Lama... lama skali kurasakan tak bercakap-cakap dengan beliau, aku rindu... ingin skali merengkuhnya.. dan mengatakan, "jangan jadikan aku beban mu..."
Ya, kami Minang.. matrilineal.. dan Bapak orang yang cukup memahami adat dengan baik. Maka sgala hal terkait pernikahan, beliau persiapkan benar-benar untuk anak perempuannya, terlebih kalau aku juga sampai berjodoh dengan lelaki Minang. Ntah apa reaksi Bapak andai tahu gmana sikap ku mengenai adat pernikahan dalam Minang, bagaimana cara yang kupilih untuk acara sakral tersebut. Pastinya smua ku lakukan demi tak ingin membebani beliau. Sudah cukup aku melihat bagaimana Bapak berjuang untuk anak-anaknya selama ini. Sudah cukupa ku mrasakan apa yang juga tlah Bapak trima dari hasil perjuangannya.
Tadinya.. ku pikir bisa melangsungkan hal itu dalam waktu dekat ini.. Tapi skarang? Smuanya malah terasa menjadi bias. Banyak hal yang membuat aku menjadi gamang. Terutama dengan apa yang terjadi pada orang-orang di dekat ku...
Pak, maafkan anakmu
biarkan aku yang tak ingin menjadi bebanmu
Tetap saja berdo'a.. agar aku bisa menjadi beda
demi engkau dan pemilik rahim yang mengandungku benar-benar bahagia
atas apapun yang terbaik yang Rabb tetapkan untukku
Ya, kami Minang.. matrilineal.. dan Bapak orang yang cukup memahami adat dengan baik. Maka sgala hal terkait pernikahan, beliau persiapkan benar-benar untuk anak perempuannya, terlebih kalau aku juga sampai berjodoh dengan lelaki Minang. Ntah apa reaksi Bapak andai tahu gmana sikap ku mengenai adat pernikahan dalam Minang, bagaimana cara yang kupilih untuk acara sakral tersebut. Pastinya smua ku lakukan demi tak ingin membebani beliau. Sudah cukup aku melihat bagaimana Bapak berjuang untuk anak-anaknya selama ini. Sudah cukupa ku mrasakan apa yang juga tlah Bapak trima dari hasil perjuangannya.
Tadinya.. ku pikir bisa melangsungkan hal itu dalam waktu dekat ini.. Tapi skarang? Smuanya malah terasa menjadi bias. Banyak hal yang membuat aku menjadi gamang. Terutama dengan apa yang terjadi pada orang-orang di dekat ku...
Pak, maafkan anakmu
biarkan aku yang tak ingin menjadi bebanmu
Tetap saja berdo'a.. agar aku bisa menjadi beda
demi engkau dan pemilik rahim yang mengandungku benar-benar bahagia
atas apapun yang terbaik yang Rabb tetapkan untukku
3.4.08
ciNta & sYukUr
Oouuugh.. akhirnya kebayar juga nih utang (ktemu juga nih Om postingan nya yang dah tenggelem jauh) :lol:
Yups, hampir dua bulan yang lalu saya berbalas postingan dengan seorang teman di forum sebelah tentang cinta, obrolan yang akhirnya meluas kmana-mana.
ars:: “seorang pecinta bukanlah orang yang mengharapkan balasan dari orang yang dicintainya, atau menuntut sesuatu dari kekasihnya. Tetapi sejatinya, pecinta adalah orang yang bermurah hati memberi pada kekasihnya, bukan malah memperoleh sesuatu darinya”.---alhikam
-i-:: “dan cinta adalah keikhlasan...”
ars:: “itu benar say, cinta melahirkan keikhlasan”.
-i-:: “cinta adalah keikhlasan itu sendiri.. *seharusnya...
ars:: “akan kurenungkan, apakah terjadi sebuah keikhlasan tanpa kehadiran cinta ...”
-i-:: “cinta tak hanya skedar "cinta"”
ars:: “cinta adalah penghambaan, dan tak ada penghambaan kecuali dengan keikhlasan”.
-i-:: “keikhlasan mencinta dengan kebebasan tanpa penghambaan, agar cinta tetap dalam logika”.
ars:: “logika mencintai adalah mengikatkan diri kepada yang dicintai secara ikhlas.terbebas dari kebebasan”.
-i-:: “walau kerap menjadi bodoh?”
ars:: “orang yang bodoh tak dapat mencintai dengan ikhlas”.
-i-:: “bukan sebalik nya?”
ars:: “bukan.menurutmu gimana?”
njelimet?! muter-muter?!.. hahahaha.. Ada yang setuju dengan saya? Atau Anda setuju dengan ars? Percakapan kami belom usai, memang. Setelah itu kami berlanjut ke YM! *ngga nyimpen arsip nya nih.
Beberapa hari kemudian, beliau meminta saya untuk menguraikannya kembali.
Ya, bagi saya cinta adalah keikhlasan. Keikhlasan memberi… keikhlasan mengasihi… pada siapa pun…
Sayangnya kebanyakan ternyata tidak selalu bisa seperti itu. Terlebih cinta pada “hubungan” dua insan yang berlawan jenis. Pada cinta yang kerap membuat “bodoh”, menjauh dari logika, hingga rela menghamba. Dan ketika cinta tak berakhir “nyata”, maka yang tersisa hanya kcewa… luka… dan airmata… tak terkecuali benci…
Saya tak ingin seperti itu. Tak ingin ada penghambaan dalam cinta. Dalam penghambaan yang ada hanya kterpaksaan, bukan keikhlasan. Keikhlasan menghamba akan terjadi saat logika tak lagi ada.
Bagaimana dengan saya? Saya? Saya ikhlas dalam mencinta, ikhlas memberi, ikhlas mengasihi. Tapi… Saya tak rela disakiti :lol: Jadi, jika itu terjadi… Saya selalu minta pada Pemilik Hati agar saya diberi keikhlasan :D Saya benci membenci!! :(
Kemudian beliau bertanya, apa hubungan cinta dengan syukur? *nahloh…
Saya mencerna, cinta [keikhlasan] hanya milik Tuhan dan milik orangtua.
Tuhan selalu ikhlas mengasihi kita, menyebar segala nikmat Nya, sekalipun kita hanyalah hamba. Bahkan penghambaan pada Tuhan saja rasanya tak ada unsur paksaan. Apa Tuhan pernah mengharap balasan? Pernahkah paksa kita beribadah? Untuk tidak berbuat dosa? Tidak kan? Dia hanya menganjurkan. Apa Tuhan merugi jika kita tak memenuhi? Tidak kan? Toh semua untuk kebaikan kita. Tapi apa yang terjadi pada kita? Sudahkah kita mensyukuri dengan ikhlas Rahman dan Rahiim Nya? Sudahkah kita bersujud bukan karena neraka dan juga surga? *istighfar…
Demikian juga pada Orangtua. Kasih mereka hanya terhenti saat mereka mati. Adakah setiap larangannya atau anjurannya merupakan paksaan? Adakah hanya sekedar egoisme orangtua?! Bagi saya tidak, karna smua mereka lakukan untuk kebaikan buah hati nya, walau tak jarang kita tidak melihat nya dari kacamata kita. Adakah pamrih atas setiap apa yang telah mereka beri?!! Tidak bukan?!!
*Ma’… Pak… Maafkan kami anak-anak mu…
Itulah cinta mereka… cinta Tuhan…
Rabb.. penuhi hati dan hidup ini dengan cinta-cinta yang hanya karena Mu
Yups, hampir dua bulan yang lalu saya berbalas postingan dengan seorang teman di forum sebelah tentang cinta, obrolan yang akhirnya meluas kmana-mana.
ars:: “seorang pecinta bukanlah orang yang mengharapkan balasan dari orang yang dicintainya, atau menuntut sesuatu dari kekasihnya. Tetapi sejatinya, pecinta adalah orang yang bermurah hati memberi pada kekasihnya, bukan malah memperoleh sesuatu darinya”.---alhikam
-i-:: “dan cinta adalah keikhlasan...”
ars:: “itu benar say, cinta melahirkan keikhlasan”.
-i-:: “cinta adalah keikhlasan itu sendiri.. *seharusnya...
ars:: “akan kurenungkan, apakah terjadi sebuah keikhlasan tanpa kehadiran cinta ...”
-i-:: “cinta tak hanya skedar "cinta"”
ars:: “cinta adalah penghambaan, dan tak ada penghambaan kecuali dengan keikhlasan”.
-i-:: “keikhlasan mencinta dengan kebebasan tanpa penghambaan, agar cinta tetap dalam logika”.
ars:: “logika mencintai adalah mengikatkan diri kepada yang dicintai secara ikhlas.terbebas dari kebebasan”.
-i-:: “walau kerap menjadi bodoh?”
ars:: “orang yang bodoh tak dapat mencintai dengan ikhlas”.
-i-:: “bukan sebalik nya?”
ars:: “bukan.menurutmu gimana?”
njelimet?! muter-muter?!.. hahahaha.. Ada yang setuju dengan saya? Atau Anda setuju dengan ars? Percakapan kami belom usai, memang. Setelah itu kami berlanjut ke YM! *ngga nyimpen arsip nya nih.
Beberapa hari kemudian, beliau meminta saya untuk menguraikannya kembali.
Ya, bagi saya cinta adalah keikhlasan. Keikhlasan memberi… keikhlasan mengasihi… pada siapa pun…
Sayangnya kebanyakan ternyata tidak selalu bisa seperti itu. Terlebih cinta pada “hubungan” dua insan yang berlawan jenis. Pada cinta yang kerap membuat “bodoh”, menjauh dari logika, hingga rela menghamba. Dan ketika cinta tak berakhir “nyata”, maka yang tersisa hanya kcewa… luka… dan airmata… tak terkecuali benci…
Saya tak ingin seperti itu. Tak ingin ada penghambaan dalam cinta. Dalam penghambaan yang ada hanya kterpaksaan, bukan keikhlasan. Keikhlasan menghamba akan terjadi saat logika tak lagi ada.
Bagaimana dengan saya? Saya? Saya ikhlas dalam mencinta, ikhlas memberi, ikhlas mengasihi. Tapi… Saya tak rela disakiti :lol: Jadi, jika itu terjadi… Saya selalu minta pada Pemilik Hati agar saya diberi keikhlasan :D Saya benci membenci!! :(
Kemudian beliau bertanya, apa hubungan cinta dengan syukur? *nahloh…
Saya mencerna, cinta [keikhlasan] hanya milik Tuhan dan milik orangtua.
Tuhan selalu ikhlas mengasihi kita, menyebar segala nikmat Nya, sekalipun kita hanyalah hamba. Bahkan penghambaan pada Tuhan saja rasanya tak ada unsur paksaan. Apa Tuhan pernah mengharap balasan? Pernahkah paksa kita beribadah? Untuk tidak berbuat dosa? Tidak kan? Dia hanya menganjurkan. Apa Tuhan merugi jika kita tak memenuhi? Tidak kan? Toh semua untuk kebaikan kita. Tapi apa yang terjadi pada kita? Sudahkah kita mensyukuri dengan ikhlas Rahman dan Rahiim Nya? Sudahkah kita bersujud bukan karena neraka dan juga surga? *istighfar…
Demikian juga pada Orangtua. Kasih mereka hanya terhenti saat mereka mati. Adakah setiap larangannya atau anjurannya merupakan paksaan? Adakah hanya sekedar egoisme orangtua?! Bagi saya tidak, karna smua mereka lakukan untuk kebaikan buah hati nya, walau tak jarang kita tidak melihat nya dari kacamata kita. Adakah pamrih atas setiap apa yang telah mereka beri?!! Tidak bukan?!!
*Ma’… Pak… Maafkan kami anak-anak mu…
Itulah cinta mereka… cinta Tuhan…
Rabb.. penuhi hati dan hidup ini dengan cinta-cinta yang hanya karena Mu
Subscribe to:
Posts (Atom)


